Minggu, 12 Februari 2017

SleepWalking

Sleepwalking dikenal juga dengan sebutan somnabulisme, yaitu satu masalah yang mengakibatkan seorang bangun serta jalan waktu tengah tidur. Paling umum berlangsung pada anak pada umur 8 serta 12 th.. Sleepwalking tak mengisyaratkan ada permasalahan kesehatan yang serius atau membutuhkan penyembuhan. 

Tetapi, sleepwalking bisa berlangsung di semua umur serta bisa mengakibatkan tingkah laku bahkan juga beresiko, seperti memanjat keluar jendela atau kencing di almari atau kaleng sampah. 

Gejala 
Sleepwalking diklasifikasikan sebagai parasomnia, satu tingkah laku atau pengalaman yg tidak dikehendaki sepanjang tidur. Seorang yang alami sleepwalking bisa alami : 
  1. Duduk ditempat tidur serta buka matanya 
  2. Mempunyai ekspresi mata sayu atau berkaca-kaca 
  3. Berkeliaran di sekitaran tempat tinggal, mungkin saja buka serta tutup pintu atau mematikan serta menghidupkan lampu 
  4. Beraktivitas teratur, seperti kenakan pakaian atau bikin makanan ringan, bahkan juga mengemudi mobil 
  5. Bicara atau bergerak dengan canggung 
  6. Menjerit, terlebih bila juga alami mimpi buruk 
  7. Susah dibangunkan saat episode sleepwalking terjadi 
Sleepwalking umumnya berlangsung sepanjang tidur pulas dimuka malam, umumnya satu hingga dua jam sesudah tertidur. Orang yang lakukan sleepwalking akan tidak ingat episode sleepwalking-nya pada pagi hari. Sleepwalking umum berlangsung pada anak-anak serta umumnya makin hilang saat remaja dikarenakan jumlah tidur pulas yang alami penurunan. 


Penyebab 
Banyak aspek yang bisa berperan dalam sleepwalking yaitu : 
  1. Kurang tidur 
  2. Kelelahan 
  3. Stres 
  4. Kecemasan 
  5. Demam 
  6. Tidur di lingkungan asing 
  7. Obat-obatan, seperti zolpidem (Ambien) 
Dalam penelitian paling baru, beberapa pakar sudah temukan satu hal utama dibalik fenomena sleepwalking. Hasil riset pada empat generasi tunjukkan kalau fenomena ini mungkin saja di pengaruhi oleh aspek keturunan. 

Tim peneliti dari Washington University memonitor empat generasi keluarga yang mana 9 dari 22 anggota mereka menderita sleepwalking. Sesudah lakukan analisis DNA memakai sampel air liur, peneliti temukan kalau semua pengidap sleepwalking mempunyai kecacatan pada kromosom 20, yang dapat di turunkan pada generasi selanjutnya. 

Menurut peneliti, dengan cuma mempunyai satu salinan dari DNA yg tidak prima itu, seorang di pastikan alami masalah sleepwalking. Orangtua yang membawa gen ini, mempunyai kesempatan 50-50 untuk menurunkannya pada anak mereka. 

" Ada peluang beberap type gen juga ikut serta. Apa yang kami dapatkan yaitu tempat genetik pertama sleepwalking. Kami belum tahu gen-gen mana saja yang terkait dengan kromosom 20 yang bertanggungjawab. 

Sampai kami temukan gen, kita takkan tahu apakah ini berlaku untuk sebagian keluarga saja atau keluaraga besar pengidap sleepwalking. Dengan temukan gen-gen ini, pastinya menolong temukan langkah penyembuhan masalah ini, " ungkap Dr Christina Gurnett, pemimpin penelitian dari Washington University. 

Sleepwalking diprediksikan dihadapi satu diantara 10 anak, dari satu di antara 50 orang dewasa. Jika seseorang mengalami kondisi ini pada malam hari, bagian primitif dari otaknya yakni batang otak menjadi aktif, sedangkan bagian otak yang mengendalikan kesadaran justru tidak aktif.

Alhasil, dalam kondisi tertidur mereka bisa duduk, berjalan-jalan dan bahkan menyelesaikan pekerjaan yang cukup rumit. Dalam kondisi tertidur, mereka dapat melakukan hal-hal yang sifatnya biasa, tetapi tak jarang pula ada yang menjadi 'liar' sehingga mencederai orang lain atau bahkan tertabrak di jalan raya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar